Mengapa Kasus Rizky Kabah Harus Menjadi Refleksi Bersama

Mengapa Kasus Rizky Kabah Harus Menjadi Refleksi Bersama

Kasus yang melibatkan Rizky Kabah, seorang siswa yang viral karena mengunggah video berisi hinaan terhadap profesi guru, telah menjadi perbincangan nasional. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Kalimantan Barat bahkan melaporkan Rizky ke Polda Kalbar sebagai bentuk perlindungan terhadap marwah guru. Namun, di balik polemik ini, ada banyak hal yang perlu kita refleksikan bersama sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat secara luas.

Kritik atau Hinaan?

Dalam era digital, kebebasan berpendapat adalah hak yang dijamin oleh undang-undang. Namun, perlu dipahami bahwa kritik dan hinaan adalah dua hal yang berbeda. Kritik yang membangun seharusnya disampaikan dengan data yang jelas, solusi yang ditawarkan, serta cara yang santun. Sebaliknya, hinaan hanya melahirkan kebencian tanpa ada manfaat bagi perbaikan sistem pendidikan kita.

Apa yang dilakukan Rizky memang tidak bisa dibenarkan, tetapi kita juga perlu menggali lebih dalam apa yang mendasari pernyataannya. Apakah benar ada kasus pungutan liar di sekolahnya? Apakah ia merasa diperlakukan tidak adil? Jika ada indikasi penyimpangan, maka hal tersebut harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan lembaga pendidikan.

Peran Guru dan Tantangan di Lapangan

Profesi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak guru, terutama di daerah terpencil, harus mengajar dengan fasilitas yang terbatas, gaji yang tidak sebanding, serta tuntutan administratif yang kian berat. Jika ada oknum yang menyalahgunakan kewenangannya, tentu harus ada tindakan tegas. Namun, menggeneralisasi semua guru sebagai koruptor adalah tindakan yang keliru dan tidak adil.

Sebagai seorang pendidik, saya memahami bahwa pendidikan tidak hanya soal transfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan etika. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap membuka ruang dialog antara guru dan siswa agar setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik daripada sekadar melontarkan kata-kata kasar di media sosial.

Pendidikan Karakter dalam Era Digital

Kasus ini juga menjadi alarm bagi kita semua bahwa pendidikan karakter harus semakin diperkuat, terutama di era digital ini. Siswa perlu dibimbing agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Alih-alih menjadi tempat untuk melampiaskan emosi secara destruktif, media sosial seharusnya bisa menjadi sarana diskusi dan berbagi gagasan yang solutif.

Dalam hal ini, peran keluarga dan sekolah sangat krusial. Orang tua perlu memastikan bahwa anak-anak mereka memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan di dunia maya. Sementara itu, sekolah harus lebih banyak membuka ruang bagi siswa untuk menyampaikan keluhan atau kritik dengan cara yang konstruktif.

Menutup Luka, Membangun Solusi

Melaporkan Rizky ke kepolisian mungkin adalah langkah yang diambil PGRI untuk menegakkan kehormatan profesi guru. Namun, kita juga harus berpikir lebih jauh: apakah hukuman adalah satu-satunya solusi? Atau ada cara lain yang lebih edukatif?

Mungkin yang lebih dibutuhkan adalah pendekatan yang lebih humanis. Rizky bisa diajak berdiskusi dengan pihak sekolah dan PGRI, diberikan wawasan lebih tentang bagaimana dunia pendidikan bekerja, serta bagaimana menyampaikan kritik yang lebih baik. Dengan demikian, bukan hanya Rizky yang belajar dari kejadian ini, tetapi kita semua.

Kasus ini harus menjadi pengingat bagi kita bahwa pendidikan bukan sekadar soal akademik, tetapi juga soal membangun karakter, empati, dan etika. Jika kita ingin menciptakan generasi yang lebih baik, maka pendekatan yang lebih bijak dan solutif harus menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan setiap permasalahan.

Next Post Previous Post