Di Atas Ranjang

Di Atas Ranjang

Malam itu, udara di dalam kamar begitu sunyi. Hanya suara detak jam di dinding yang menemani. Aku berbaring menatap langit-langit, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang terus berputar di kepala. Cahaya lampu meja redup, menyisakan bayangan panjang di dinding. Di sebelahku, dia berbaring dengan punggung menghadapku. Tak ada percakapan, tak ada sentuhan. Hanya ada jarak yang semakin hari semakin luas, meski kami berada dalam satu ranjang yang sama.

Aku memandangnya lama, mengingat kembali hari-hari di mana kita bisa tertawa bersama tanpa ada beban di dada. Rasanya baru kemarin kita bercanda tentang mimpi-mimpi yang ingin kita raih bersama. Tapi kini, segalanya terasa seperti rutinitas tanpa makna. Kita masih berbagi tempat tidur yang sama, tapi entah sejak kapan kita berhenti berbagi cerita.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya, “Kamu masih ingat pertama kali kita tidur bersama di kamar ini?”

Dia tak langsung menjawab. Hanya ada keheningan beberapa saat sebelum akhirnya dia berkata pelan, “Iya.”

Aku menunggu kata-kata berikutnya, tapi tak ada. Hanya jawaban pendek yang terasa begitu asing. Aku menoleh ke arahnya, berharap dia akan menatapku, memberi sedikit kepastian bahwa perasaan ini masih ada. Tapi dia tetap diam, tetap memunggungiku. Aku tahu ada sesuatu yang berubah. Aku hanya belum siap mendengarnya secara langsung.

“Aku rindu kita yang dulu,” kataku akhirnya, suara nyaris berbisik.

Kali ini dia bergerak, membalikkan badan perlahan. Matanya bertemu dengan mataku dalam redupnya cahaya. Aku bisa melihat kelelahan di sana, entah kelelahan karena hari yang berat atau karena percakapan ini. “Aku juga,” katanya, tapi suaranya tak sehangat dulu.

Aku ingin bertanya lebih jauh, ingin memastikan bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk kembali seperti dulu. Tapi aku takut jawabannya tak seperti yang kuinginkan. Malam itu, di atas ranjang yang dulu jadi tempat kita berbagi segalanya, aku sadar bahwa kehangatan bisa memudar, dan kadang, jarak bisa hadir tanpa harus benar-benar pergi.

Aku memejamkan mata, berharap tidur bisa menghapus perasaan ini walau hanya untuk sementara. Tapi pikiran terus berputar. Kenapa kita sampai di titik ini? Aku mencoba mengingat momen-momen kecil yang dulu membuat segalanya terasa lebih ringan—sarapan bersama di pagi hari, obrolan panjang tentang film favorit, atau sekadar bergandengan tangan saat berjalan di trotoar kota. Kini, semua itu terasa jauh, seolah hanya kepingan masa lalu yang tak bisa lagi dirangkai menjadi utuh.

Aku menoleh ke arahnya lagi. Dia masih menatapku, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Aku ingin percaya bahwa itu adalah sisa-sisa perasaan yang dulu pernah ada, tapi aku juga takut bahwa itu hanyalah refleksi dari apa yang pernah kita punya, bukan yang masih kita genggam.

“Apa kita masih bisa kembali seperti dulu?” tanyaku lirih.

Dia tak langsung menjawab. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian tertutup lagi. Aku bisa merasakan ketidakpastian yang sama di dalam dirinya.

“Kita sudah berubah,” katanya akhirnya. “Dan aku nggak tahu apakah itu hal yang bisa kita perbaiki atau sesuatu yang harus kita terima.”

Aku menggigit bibir, menahan gejolak yang ingin keluar dalam bentuk air mata. Aku tahu perubahan itu nyata, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa kita akan sampai di titik ini—di mana cinta tak cukup untuk menghapus jarak yang ada.

Malam terus berjalan, tapi keheningan di antara kami tetap tak terpecahkan. Aku bergeser sedikit, merapat ke arahnya. Dia tidak menolak, tapi juga tidak membalas. Itu lebih menyakitkan daripada apapun. Karena kadang, kehilangan yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang, tapi kehilangan rasa yang dulu selalu ada di antara kita.

Next Post Previous Post