Kepercayaan yang Retak di Negeri Sendiri
Di negeri ini, kepercayaan dulunya adalah mata uang yang lebih berharga dari emas. Orang-orang menaruhnya pada pemimpin, pada lembaga, pada sesamanya. Tapi lihatlah sekarang—ia terkikis seperti batu karang yang dihantam gelombang. Tidak serta-merta hilang, tetapi perlahan tergerus, hancur, hingga hanya tersisa serpihan yang tak cukup untuk menyusun keyakinan. Tak ada yang tahu pasti kapan ini bermula. Mungkin sejak pertama kali janji-janji diumbar tanpa rencana yang matang. Mungkin sejak pertama kali keadilan dipermainkan demi kepentingan segelintir orang. Atau mungkin sejak masyarakat mulai belajar bahwa kejujuran adalah kelemahan, dan kepalsuan adalah alat bertahan hidup.
Orang-orang bicara dengan sinis tentang keadilan, tentang janji-janji yang menguap di udara sebelum sempat diwujudkan. Mereka melihat ke atas, ke kursi-kursi yang seharusnya diisi oleh orang-orang yang bekerja untuk rakyat, tapi justru menemukan wajah-wajah yang sibuk memperkaya diri. Setiap periode baru datang dengan harapan yang baru pula, tetapi seiring waktu, harapan itu berdebu, menumpuk bersama kecewa yang semakin berat. Apa lagi yang tersisa untuk dipercaya? Seorang petani yang setia membayar pajak tak kunjung merasakan sejahtera. Seorang pedagang kecil yang berusaha bertahan justru dihimpit oleh kebijakan yang lebih menguntungkan para pemodal besar. Sementara itu, mereka yang duduk di kursi kekuasaan terus bicara tentang pertumbuhan ekonomi, seakan-akan angka-angka itu bisa mengisi perut yang lapar.
Birokrasi yang berbelit, hukum yang condong ke mereka yang punya kuasa, janji pembangunan yang tinggal coretan dalam proposal yang tak kunjung terealisasi—semua menjadi alasan mengapa rakyat mulai kehilangan pegangan. Mereka tak lagi menaruh harapan pada siapa pun, kecuali pada dirinya sendiri. Kalau pun ada yang masih percaya, mereka dianggap naif, seolah kepercayaan itu adalah barang antik yang hanya pantas disimpan dalam museum sejarah. Ironinya, orang-orang yang masih mau percaya justru kerap menjadi korban pertama dari ketidakadilan. Mereka menaruh harapan pada pemerintah, tetapi hak-haknya dirampas. Mereka percaya pada hukum, tetapi yang mereka dapat hanyalah ketimpangan. Hingga akhirnya, mereka lelah dan memilih untuk tak lagi berharap.
Namun, kepercayaan bukan hanya soal politik dan birokrasi. Ia merembes ke segala sendi kehidupan. Ketika berita hoaks lebih dipercaya daripada kenyataan, ketika masyarakat lebih yakin pada bisik-bisik tetangga ketimbang data yang jelas, kita tahu bahwa sesuatu telah rusak. Kepercayaan antarindividu juga mulai terkikis. Seseorang lebih waspada terhadap sesamanya daripada terhadap ancaman nyata di sekitarnya. Bertetangga tak lagi soal kepedulian, melainkan sekadar formalitas yang dijaga agar tak menimbulkan konflik. Pergaulan menjadi transaksional—hanya berteman jika ada keuntungan. Kita hidup di zaman di mana semua orang berbicara, tetapi tak ada yang benar-benar mendengarkan.
Seorang guru berkata pada muridnya bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan, tapi si murid melihat saudaranya yang sarjana tetap menganggur, dan ia pun bertanya: "Apa yang bisa kupercayai dari kata-kata itu?" Sebab realitas berbicara lain. Banyak yang telah berusaha sebaik-baiknya, belajar setinggi-tingginya, hanya untuk menemukan bahwa lapangan pekerjaan tidak berpihak pada mereka. Mereka yang bekerja keras justru kalah oleh mereka yang punya koneksi. Maka, perlahan, kepercayaan pada pendidikan pun memudar. Mereka mulai bertanya, untuk apa berjuang dalam sistem yang tak memberi ruang bagi mereka yang benar-benar berniat maju?
Dan di antara semua itu, kita bertanya: siapa yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya kepercayaan ini? Para pemimpin yang tak menepati janji? Media yang sibuk mencari sensasi daripada kebenaran? Rakyat yang terlalu mudah percaya pada kebohongan? Atau kita sendiri, yang membiarkan keadaan ini berlarut-larut tanpa berbuat apa-apa? Kita semua adalah bagian dari jaringan yang saling terhubung, dan saat satu bagian rusak, seluruh jaringan ikut melemah.
Mungkin, ini adalah kesalahan kita bersama. Kita yang membiarkan ketidakjujuran menjadi kebiasaan, membiarkan ketidakpedulian merajalela, membiarkan rasa curiga tumbuh lebih cepat daripada keyakinan. Jika demikian, barangkali bukan kepercayaan yang harus kita tuntut kembali, melainkan tanggung jawab kita untuk merawatnya. Karena tanpa itu, negeri ini akan terus dihantui oleh kecurigaan yang tak berkesudahan, di mana setiap orang berjalan sendiri-sendiri, tanpa lagi berani menaruh percaya pada siapa pun. Jika kita ingin mengembalikan kepercayaan, kita harus mulai dari diri sendiri. Berani berkata benar walau tidak menguntungkan. Berani melawan ketidakadilan walau sendirian. Sebab kepercayaan tidak bisa lahir dari pidato-pidato kosong atau peraturan-peraturan baru—ia hanya bisa tumbuh dari tindakan nyata, dari kejujuran yang ditegakkan meski sulit, dari kepedulian yang diberikan tanpa pamrih. Hanya dengan begitu, kita bisa berharap kepercayaan itu kembali, bukan sebagai ilusi, tetapi sebagai sesuatu yang nyata dan bisa kita genggam kembali.