Kursi yang Tidak Pernah Sama
Di ruang kekuasaan, ingatan manusia sering kali selektif. Mereka yang dulu dielu-elukan sebagai pahlawan perubahan kini duduk di kursi empuk, dikelilingi oleh berkas-berkas yang hanya mencerminkan kepentingan status quo. Suara mereka, yang dahulu begitu lantang menuntut keadilan, kini teredam dalam dialektika politik yang kian jauh dari realitas rakyat.
Dulu, mereka datang dengan langkah penuh kerendahan hati, mengetuk setiap pintu dengan janji-janji reformasi yang revolusioner. Mereka berbicara tentang transformasi sosial, tentang redistribusi keadilan, tentang dunia yang lebih egaliter. Namun, seiring berjalannya waktu, posisi mereka di struktur kekuasaan membentuk narasi yang berbeda. Wacana mereka tidak lagi berpihak kepada massa, tetapi kepada mekanisme birokrasi yang kian menjerat.
"Harus ada kesabaran dalam membangun perubahan," begitu kata mereka kini.
"Kami sedang berusaha mengkaji solusi yang tepat," ujar mereka lagi, meski realitas di lapangan semakin tak terkendali.
"Kita harus memahami kompleksitas sistem," imbuh mereka, seolah semua yang mereka perjuangkan dulu adalah sesuatu yang utopis dan tak dapat diwujudkan.
Dari kejauhan, Rian menyaksikan semua ini dengan skeptisisme yang kian mengakar. Duduk di bangku kayu warung kopi yang berdebu, ia menyulut rokoknya, membiarkan asap tipis naik ke udara—sebuah metafora atas harapan yang perlahan menguap. Ia bukan sekadar pengamat, melainkan seorang yang pernah berdiri di garis depan perjuangan, mempercayai bahwa perubahan adalah sesuatu yang nyata.
"Kita ini cuma batu loncatan," ucap Damar, sahabat yang telah bersamanya sejak awal pergerakan.
Rian tersenyum miris. "Batu loncatan atau sekadar alat untuk mereka pijak?"
Damar tertawa kecil, getir. "Mungkin kita tak lebih dari sekadar variabel dalam kalkulasi politik mereka."
Mereka memperhatikan mobil-mobil hitam yang melaju dengan kaca gelap, membawa sosok-sosok yang dulu pernah berjuang bersama mereka. Orang-orang itu kini berada di balik batas fisik dan simbolik yang memisahkan mereka dari rakyat yang pernah mereka yakinkan dengan janji-janji manis.
"Orang-orang di dalam mobil itu, dulu makan dari warung yang sama dengan kita," gumam Damar.
"Bedanya, sekarang mereka makan dengan sendok perak di atas meja marmer, sementara kita masih di sini, dengan kopi sachet dan rokok yang tinggal separuh," Rian menimpali.
Damar terdiam. Rian menatap langit yang mulai merona merah keemasan. Kekuasaan memang memiliki sifat transformatifnya sendiri. Ia dapat memperbaiki atau merusak, membangun atau meluruhkan. Sayangnya, terlalu sering ia menjadi mesin yang menelan idealisme dan menggantinya dengan pragmatisme.
Malam semakin larut. Warung kopi yang tadinya ramai kini mulai sunyi. Percakapan-percakapan telah reda, meninggalkan hanya mereka berdua di antara meja-meja yang kini kosong. Rian mengaduk kopinya yang telah dingin, matanya menatap gelas itu seolah mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan.
"Gue masih ingat waktu kita berdiri di lapangan itu. Kita berkeringat, berteriak, dan percaya bahwa sesuatu bisa berubah," kata Rian pelan.
Damar menghela napas panjang. "Mungkin kita yang terlalu naif. Kita pikir mereka benar-benar peduli, padahal mereka hanya butuh kita sebagai alat untuk mencapai kursi itu."
Kenangan-kenangan lama kembali berkelebat dalam ingatan Rian. Malam-malam tanpa tidur, diskusi-diskusi panjang tentang strategi pergerakan, spanduk-spanduk yang mereka lukis dengan tangan sendiri. Mereka dulu bukan siapa-siapa, tetapi mereka memiliki keyakinan. Kini, mereka tetap bukan siapa-siapa, tetapi keyakinan itu telah goyah.
"Lo pernah kepikiran untuk ada di posisi mereka?" tanya Rian tiba-tiba.
Damar tertawa kecil. "Dulu mungkin iya. Tapi sekarang? Gue nggak yakin."
"Kenapa?"
"Karena gue takut. Takut kalau pada akhirnya gue juga akan berubah, duduk di kursi itu dan lupa pada semua yang pernah kita perjuangkan. Takut kalau idealisme gue akhirnya kalah oleh sistem."
Rian mengangguk pelan. Kekuasaan bukan sekadar alat, melainkan ruang yang memiliki daya bentuknya sendiri. Ia bukan hanya menempatkan seseorang di posisi yang lebih tinggi, tetapi juga menguji ketahanan moral mereka. Bukan semua orang yang masuk ke dalamnya keluar dengan integritas yang tetap utuh.
"Jadi, kita hanya akan diam dan membiarkan semuanya berjalan seperti ini?" tanya Rian, lebih kepada dirinya sendiri.
"Gue nggak tahu, Yan. Tapi gue masih percaya, di luar sana pasti ada orang-orang yang benar-benar ingin melakukan perubahan, bukan sekadar berbicara tentangnya. Kita hanya belum bertemu mereka."
Malam semakin larut, angin berhembus dingin membawa suara-suara yang entah datang dari mana. Mobil-mobil hitam yang tadi melintas kini telah menghilang, meninggalkan debu yang perlahan mengendap kembali di jalanan. Harapan yang dulu begitu menyala kini meredup, tetapi belum sepenuhnya padam.
Rian meneguk kopi terakhirnya, lalu mematikan rokok yang sudah hampir habis. "Mungkin kita hanya perlu menunggu momentum yang tepat. Atau mungkin, kitalah yang harus menciptakan momentum itu."
Damar menatap Rian dalam-dalam. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang berbeda malam itu. Mungkin, secercah harapan yang telah lama tertutup lapisan kekecewaan kini mulai kembali bersinar, meskipun kecil.
Dan dalam sejarah, cahaya kecil sering kali menjadi awal dari revolusi yang lebih besar.