Lelaki Berbaju Coklat di Perempatan
Waktu Asar, saya mengantar kakak ke pasar Taraju. Macet, seperti biasa menjelang Lebaran. Tukang parkir, petugas Dishub, dan TNI sibuk menertibkan arus lalu lintas yang padat. Saya membawa kendaraan roda empat, melaju pelan di antara kerumunan kendaraan dan pejalan kaki yang berseliweran di kiri dan kanan jalan. Tepat di depan Polsek Taraju, macet semakin menjadi.
Di tengah perempatan, seorang lelaki gagah berbaju coklat berdiri tegak tanpa bergerak. Tidak melambaikan tangan, tidak memberi isyarat. Diam saja di tengah jalan, seolah mengamati sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Saya agak heran, tapi tidak terlalu memikirkannya. Mobil saya harus berbelok mengikuti arus jalan, namun saking padatnya, saya tanpa sengaja menyenggol lelaki itu.
Tiba-tiba, suara pukulan keras terdengar di bagian samping mobil saya. Lelaki berbaju coklat itu menatap saya dengan sorot mata tajam. “Tadi juga tidak ada yang nyenggol,” katanya dengan nada arogan. Saya terdiam sesaat, mencoba memahami situasi. Dari cara berbicaranya, dari tatapan matanya, entah mengapa saya merasa ada sesuatu yang ganjil.
Dalam hati, saya menghela napas panjang. Saya bisa saja membalas dengan nada yang sama, tapi saya memilih untuk diam. Situasi macet dan hawa puasa membuat saya enggan memperpanjang masalah. Saya mengangguk kecil, lalu melanjutkan perjalanan. Dari kaca spion, lelaki itu masih berdiri di tempat yang sama, seolah menjaga sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.
Entah kenapa, bayangan lelaki itu terus terngiang dalam pikiran saya. Apakah dia memang petugas? Atau hanya seseorang yang ingin menunjukkan kuasanya di tengah jalanan macet? Saya tidak tahu, tapi yang jelas, pertemuan singkat itu mengajarkan saya satu hal: kadang, diam lebih berarti daripada perlawanan.