Mengeja Mimpi di Saung Komunitas Ngejah
Di ufuk Garut Selatan dan Tasikmalaya Selatan, tempat matahari menyapa bukit-bukit hijau dengan lembut, berdiri sebuah tempat sederhana yang menyimpan mimpi besar. Namanya Saung Komunitas Ngejah—sebuah kata yang menggema di hati anak-anak desa, membawa harapan di tengah keterbatasan. Di sini, di antara jalan tanah dan rumah-rumah sederhana, lahir sebuah gerakan yang menolak diam pada nasib. Komunitas Ngejah, yang bermula sebagai Taman Bacaan Masyarakat, adalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang: membawa pena, kertas, dan kamera ke tangan-tangan kecil yang haus akan ilmu.
Aku membayangkan, di suatu pagi yang sejuk sekitar tahun 2010-an, seorang pemuda berdiri di tengah saung bambu, dikelilingi wajah-wajah polos penuh rasa ingin tahu. “Kalian adalah mata dan telinga dunia,” katanya, “dan jurnalistik adalah cara kalian berbicara.” Dari sanalah Pelatihan Jurnalistik Pelajar (PJP) Komunitas Ngejah mengambil napas pertamanya. Bukan sekadar pelajaran, tetapi sebuah panggilan untuk mengeja mimpi, menorehkan cerita, dan mengabadikan dunia dalam kata dan gambar. Di tempat yang jauh dari gemerlap perpustakaan kota atau deru teknologi modern, Saung Komunitas Ngejah membuktikan bahwa semangat belajar tak pernah mengenal batas.
PJP bukanlah sekadar kursus biasa. Ia adalah ladang tempat benih-benih kreativitas ditanam. Para pelajar, anak-anak petani dan pedagang kecil, diberi kebebasan memilih: menulis berita yang tajam, merangkai blog yang penuh warna, menangkap momen dalam lensa fotografi, atau merekam suara dunia lewat audio-visual. Setiap kelas adalah pintu menuju keajaiban, setiap tugas adalah langkah menuju keberanian. Aku bisa membayangkan seorang gadis kecil, tangannya gemetar saat pertama kali memegang kamera, atau seorang pemuda desa yang terpaku menulis berita pertamanya tentang pasar pagi. Di tangan mereka, alat-alat sederhana itu menjadi senjata untuk melawan kebisuan.
Seiring waktu berlalu, PJP tumbuh menjadi lebih dari sekadar pelatihan tahunan. Ia menjadi denyut nadi Saung Komunitas Ngejah, sebuah tradisi yang menghidupkan semangat literasi di antara anak-anak Garut Selatan dan Tasikmalaya Selatan. Dari saung kecil itu, lahir JPeGS—Jurnalis Pelajar Garut Selatan—sebuah organisasi yang menampung jiwa-jiwa muda yang tak lagi puas hanya membaca, tetapi ingin menulis sejarah mereka sendiri. Kerenanya, karya mereka tak berhenti di meja kelas. Tulisan mereka menghiasi surat kabar lokal, blog komunitas, bahkan majalah dinding yang dipajang dengan bangga di sudut-sudut sekolah. Setiap kata yang mereka torehkan adalah bukti bahwa dari desa kecil pun, suara bisa menggema jauh.
Aku teringat mantra dari Negeri 5 Menara: Man jadda wajada—siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Saung Komunitas Ngejah adalah wujud nyata dari mantra itu. Di tengah keterbatasan—tanpa perpustakaan megah atau akses internet yang melimpah—mereka membangun jembatan menuju ilmu dengan tangan kosong dan hati penuh tekad. PJP adalah bukti bahwa pendidikan sejati tak selalu lahir dari gedung bertingkat, tetapi dari semangat yang tak pernah padam. Dari tahun ke tahun, hingga kini di 2025, pelatihan ini terus berjalan, mungkin dengan wajah-wajah baru dan cerita-cerita segar, namun dengan jiwa yang sama: memberdayakan.
Bayangkanlah, seorang anak desa yang dulu hanya tahu menggembala kambing kini menjadi jurnalis muda, menulis tentang harapan di tanah kelahirannya. Atau seorang gadis yang dulu malu berbicara kini berani merekam kisah-kisah warga lewat mikrofonnya. Saung Komunitas Ngejah telah mengajarkan mereka bahwa dunia bukan hanya milik kota besar, tetapi juga milik mereka yang berani bermimpi di saung sederhana. Pelatihan jurnalistik ini bukan sekadar tentang menulis atau memotret; ia tentang memberi suara kepada yang tak bersuara, tentang menyalakan lampu di tengah gelapnya keterbatasan.
Kini, ketika matahari terbenam di ufuk Garut Selatan, aku membayangkan anak-anak Ngejah duduk bersama di Saung Komunitas Ngejah, pena di tangan, kamera di pundak, dan mimpi di hati. Mereka adalah penutur cerita masa depan, pewaris semangat literasi yang tak pernah lekang oleh waktu. Saung Komunitas Ngejah telah menunjukkan bahwa dari sederhana bisa lahir keajaiban, dan dari desa kecil bisa bergema suara yang mengubah dunia. Seperti kata guru kami di menara, “Jangan pernah meremehkan kekuatan doa dan usaha.” Di Ngejah, doa itu bernama harapan, dan usaha itu bernama PJP.