Meningkatkan Budaya Literasi: Peran Guru dalam Mendorong Kunjungan ke Perpustakaan dan Taman Baca

Meningkatkan Budaya Literasi: Peran Guru dalam Mendorong Kunjungan ke Perpustakaan dan Taman Baca

Perpustakaan dan taman baca merupakan sarana penting dalam meningkatkan literasi siswa. Namun, seberapa sering siswa mendapatkan tugas dari guru untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut dalam satu semester? Pertanyaan ini menjadi refleksi terhadap efektivitas program literasi di sekolah dan bagaimana peran guru dalam menumbuhkan kebiasaan membaca di kalangan siswa.

Kondisi Literasi di Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan oleh pemerintah bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa. Namun, penelitian yang dilakukan di Sidoarjo, Jawa Timur, menunjukkan bahwa 79,2% sekolah belum mempersiapkan sumber bacaan yang memadai bagi siswa, dan 86,9% sekolah masih kekurangan bahan bacaan (repositori.kemdikbud.go.id). Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya meningkatkan literasi, masih banyak kendala yang dihadapi sekolah dalam menyediakan akses ke bahan bacaan berkualitas.

Selain itu, frekuensi kunjungan siswa ke Taman Baca Masyarakat (TBM) juga bervariasi. Sebuah studi di TBM Jayanti, Palembang, menemukan bahwa dalam tiga bulan terakhir, jumlah kunjungan siswa SD ke TBM mengalami fluktuasi, yaitu 19 kunjungan pada September, 53 pada Oktober, dan 38 pada November (journal.unnes.ac.id). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada fasilitas membaca, belum tentu siswa tertarik atau memiliki dorongan untuk menggunakannya secara rutin.

Peran Guru dalam Mendorong Kunjungan ke Perpustakaan dan Taman Baca

Guru memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan membaca siswa. Beberapa sekolah telah menerapkan strategi kreatif untuk meningkatkan minat baca, seperti mengadakan sesi membaca di berbagai lokasi seperti taman, koridor, atau lapangan upacara. Dalam kegiatan ini, siswa diminta membaca buku selama beberapa menit lalu mempresentasikan hasil bacaannya di depan teman-temannya (repositori.kemdikbud.go.id).

Selain itu, guru juga dapat memberikan tugas yang mengharuskan siswa mengunjungi perpustakaan atau taman baca, seperti membuat ringkasan buku atau berdiskusi tentang isi buku yang telah dibaca. Dengan demikian, kunjungan ke tempat membaca bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi juga bagian dari proses belajar yang menyenangkan.

Tantangan dan Solusi

Meskipun program literasi sudah berjalan, masih ada berbagai tantangan yang dihadapi, seperti kurangnya fasilitas, minat baca yang rendah, dan dominasi hiburan digital. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi antara guru, sekolah, dan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang mendukung budaya literasi.

Salah satu solusi adalah menjadikan perpustakaan dan taman baca sebagai tempat yang menarik bagi siswa, misalnya dengan menyediakan buku-buku yang sesuai dengan minat mereka, mengadakan kegiatan literasi interaktif, serta memanfaatkan teknologi digital untuk menarik perhatian mereka.

Kesimpulan

Frekuensi kunjungan siswa ke perpustakaan atau taman baca sangat bergantung pada inisiatif guru dan program literasi yang diterapkan di sekolah. Dengan mendorong siswa untuk lebih aktif membaca, baik melalui tugas sekolah maupun kegiatan interaktif, budaya literasi dapat semakin berkembang. Guru, sekolah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca agar generasi muda memiliki daya saing yang lebih baik di masa depan.

Next Post Previous Post