Menyalakan Lentera di Saung Komunitas Ngejah
Di ufuk Garut Selatan dan Tasikmalaya Selatan, tempat bukit-bukit hijau berbisik dengan angin dan matahari menyapa kampung-kampung sederhana, ada sebuah saung kecil yang menyimpan cahaya besar. Saung Komunitas Ngejah, sebuah tempat dari bambu dan daun kelapa, berdiri tegak di Kampung Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Garut, sejak Juli 2010. Di tangan seorang pemuda bernama Nero Taopik Abdillah—atau Opik—saung ini bukan sekadar tempat berteduh, tetapi menara harapan yang menjulang di tengah keterbatasan. Dari kamar kecil seluas 12 meter persegi, ia menanam benih mimpi: membawa buku ke tangan-tangan anak desa yang jarang melihatnya, menyalakan lentera literasi di kampung-kampung yang gelap dari ilmu.
Aku membayangkan sebuah akhir pekan yang sejuk, saat matahari masih malu-malu muncul di balik bukit. Sekelompok anak muda, pundak mereka penuh dengan tumpukan buku, berjalan melintasi jalan tanah yang terjal. Mereka adalah relawan Ngejah, para pembawa cerita yang tak gentar pada debu dan lelah. Di kampung-kampung terpencil Garut Selatan dan Tasikmalaya Selatan, mereka berhenti, membuka tikar, dan memanggil anak-anak dengan senyum. “Mari kita baca bersama,” ajak mereka, lalu dunia pun terbuka. Ada dongeng tentang pahlawan, puisi tentang sawah, dan nyanyian tentang langit. Ada tawa, ada gambar-gambar kecil yang lahir dari tangan-tangan mungil, dan ada 30 menit yang terasa seperti keajaiban: saat semua membaca, diam dalam cerita, namun bersuara dalam hati.
Gerakan Kampung Membaca ini adalah denyut jantung Komunitas Ngejah. Ia tak hanya membawa buku, tetapi juga harapan. Di tempat yang jauh dari toko buku atau perpustakaan kota, Ngejah datang sebagai sahabat, membuktikan bahwa ilmu tak harus menunggu gedung megah atau jaringan internet. Ketika warga menyambut hangat, mereka tak pulang begitu saja. Pojok Baca pun berdiri—lemari kecil atau rak sederhana penuh buku, dikelola oleh tangan-tangan lokal seperti Mang Apin di Kampung Panjarosi. Puluhan pojok baca telah lahir, titik-titik cahaya yang tak padam meski relawan telah pergi. Di tahun 2017, lebih dari 12.000 buku telah sampai ke tangan anak-anak, dan ratusan jiwa kecil telah disentuh oleh cerita.
Aku teringat mantra guru kami di menara: Man jadda wajada—siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Ngejah adalah bukti nyata mantra itu. Di tengah jalan rusak dan dana terbatas, mereka berjalan, membawa buku melintasi bukit, menantang lelah dengan tekad. Penghargaan datang sebagai bisik syukur: TBM AIUEO dinobatkan sebagai TBM Kreatif-Rekreatif oleh Kemendikbud pada 2015, dan Opik menerima Anugerah Pelopor Pemberdayaan Masyarakat dari Gubernur Jawa Barat. Namun, di balik gemerlap itu, ada keringat relawan yang tak terhitung, ada doa-doa kecil yang terucap di saung bambu, dan ada anak-anak yang kini bermimpi lebih jauh dari sawah dan kambing mereka.
Bayangkanlah seorang anak desa, tangannya kasar karena membantu di ladang, kini memegang buku dengan mata berbinar. Atau seorang gadis kecil, yang dulu hanya tahu nyanyian ibunya, kini membaca puisi tentang langit biru. Gerakan Kampung Membaca bukan sekadar tentang huruf dan kata; ia tentang menyalakan api dalam hati, tentang memberi sayap pada jiwa-jiwa yang terkurung keterbatasan. Dari saung kecil ini, Ngejah mengajarkan bahwa buku adalah hak, bukan barang mewah, dan bahwa kampung pun bisa menjadi menara ilmu.
Kini, di tahun 2025, aku membayangkan Saung Komunitas Ngejah masih berdiri, mungkin dengan dinding yang semakin usang namun hati yang kian muda. Gerakan Kampung Membaca terus berjalan, membawa cerita ke pelosok yang terlupakan, menabur benih literasi di tanah yang tandus dari fasilitas. Ketika matahari terbenam di ufuk Garut Selatan, anak-anak duduk di tikar, buku di tangan, dan mimpi di mata. Mereka adalah penutur masa depan, pewaris lentera yang dinyalakan Ngejah. Seperti kata guru kami, “Jangan pernah meremehkan kekuatan doa dan usaha.” Di Ngejah, doa itu bernama buku, dan usaha itu bernama cinta.