Pendidikan di Pabrik

Pendidikan di Pabrik

Pabrik itu berdiri kokoh di tepi kota, dengan cerobong asapnya yang selalu mengepul seperti tak pernah tidur. Di dalamnya, ratusan pekerja membungkuk di depan mesin, jemari mereka menari cepat, seolah waktu adalah musuh yang tak kenal lelah. Salah satu dari mereka adalah Sari.

Di usia dua puluh empat, Sari telah hafal irama mesin-mesin itu lebih baik daripada dirinya sendiri. Ia tahu kapan harus menarik tuas, kapan harus menghindari percikan logam panas, dan kapan harus diam ketika mandor berkeliling dengan wajah sekaku logam dingin.

Namun, ada satu hal yang membuat Sari berbeda dari buruh lainnya: ia selalu membawa buku ke pabrik.

Setiap istirahat makan siang, ketika yang lain memilih tidur sebentar atau mengobrol kosong, Sari duduk di sudut, membaca buku setebal bata yang dipinjamnya dari perpustakaan kecil di ujung gang dekat kontrakannya. Dari situlah ia mengenal kata-kata yang tak pernah diajarkan di ruang produksi—eksploitasi, kesenjangan, dan hak.

“Apa gunanya baca buku kalau besok tetap harus kerja di sini?” tanya Rudi, teman kerjanya, sambil mengunyah nasi bungkus.

Sari tersenyum, menutup bukunya. “Baca buku nggak langsung bikin gue kaya, tapi setidaknya gue tahu kenapa kita tetap miskin.”

Rudi tertawa kecil, tapi sorot matanya berubah. Ia tahu Sari bukan hanya bicara omong kosong.

Suatu malam, selepas lembur, Sari berjalan pulang sambil menatap pabrik yang temboknya memantulkan sinar lampu jalan. Ia berpikir tentang ayahnya, yang dulu juga seorang buruh dan selalu berkata, “Sekolah itu buat orang kaya. Kita kerja aja yang rajin.”

Namun, di dalam hatinya, Sari menolak percaya. Pendidikan bukan soal kaya atau miskin. Pendidikan adalah tentang tahu bahwa ada dunia lain di luar pabrik ini—dan ia akan mencarinya.

Esok harinya, ia datang ke pabrik bukan hanya dengan buku, tapi juga selembar brosur kursus malam di tangannya.

Ia teringat kata-kata Nelson Mandela:

"Education is the most powerful weapon which you can use to change the world."

Sari tahu, jika ingin keluar dari labirin besi ini, ia harus mulai dengan satu langkah kecil.

Next Post Previous Post