Pengantar
Cinta adalah misteri yang tak terjelaskan dengan logika, tetapi bisa dirasakan dalam setiap hembusan napas. Ia adalah api yang membakar tanpa menghanguskan, angin yang berbisik tanpa terlihat, dan sungai yang mengalir menuju laut tanpa bertanya arah. Dalam setiap detiknya, cinta mengajarkan kita tentang kehilangan dan kepemilikan, tentang rindu yang abadi dan kebersamaan yang tak terikat waktu.
Dalam kumpulan puisi ini, saya mencoba menghadirkan keindahan cinta dalam kata-kata, dengan gaya yang terinspirasi dari Jalaludin Rumi—seorang penyair sufi yang menulis tentang cinta dalam bentuk yang paling murni dan spiritual. Setiap bait bukan sekadar ungkapan perasaan, tetapi juga perjalanan jiwa yang merindukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertemuan dua insan.
Semoga puisi-puisi ini dapat menyentuh hati, menggugah rasa, dan mengajak kita memahami bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan, menerima, dan menyatu dengan semesta.
Selamat membaca dan merasakan cinta dalam setiap kata. 💫✨
1. Cinta Adalah Cahaya
Cinta adalah cahaya yang menyala dalam dadamu,
Ia tak perlu api untuk berkobar,
Tak butuh minyak untuk menyinari gelap,
Ia hanya perlu hatimu yang terbuka.
Datanglah, walau engkau hancur,
Walau engkau tersesat dalam badai dunia,
Cinta tak bertanya asalmu,
Ia hanya ingin kau pulang.
2. Aku Adalah Engkau
Aku mencarimu di tanah yang jauh,
Di langit, di ombak, di desir angin.
Namun ketika kuselami jiwaku,
Di sanalah engkau bersemayam.
Mengapa kau berdiri di luar pintu?
Masuklah, kau tak terpisah dariku.
Antara aku dan engkau,
Tiada dinding, hanya bayangan rindu.
3. Mabuk Tanpa Anggur
Cinta membuatku mabuk,
Tapi tak ada anggur dalam pialaku.
Aku terhuyung dalam rindu,
Jatuh ke dalam samudra yang tak bertepi.
Aku ingin mencarimu,
Namun kau lebih dekat dari nafasku.
Aku ingin berseru,
Namun lidahku kelu oleh keindahanmu.
4. Surat untuk Kekasih yang Jauh
Engkau bagai rembulan di langit musim dingin,
Jauh, tapi cahayamu membasuh jiwaku.
Aku menulis puisi ini untukmu,
Dengan tinta air mata dan rindu.
Jika kau bertanya di mana aku berada,
Lihatlah dalam hatimu.
Di sanalah aku,
Menunggu di tepi senyummu.
5. Biarkan Aku Terbakar
Cinta ini adalah api,
Dan aku kayu yang rela terbakar.
Jangan padamkan aku dengan logika,
Biarkan aku jadi abu dalam namamu.
Tak perlu alasan untuk mencintaimu,
Sebab angin tak perlu izin untuk berhembus.
Jika aku hancur dalam namamu,
Maka itulah takdir yang paling indah.
6. Sungai yang Menuju Laut
Engkau adalah laut tak berujung,
Dan aku hanyalah sungai kecil,
Berlari, berlari, menuju pelukanmu,
Tanpa ingin berpaling.
Jangan tanya mengapa aku datang,
Sebab air selalu tahu jalannya.
Aku lahir untuk kembali padamu,
Seperti sungai yang rindu pada laut.
7. Suara di Dalam Hatimu
Ketika kau merindukanku,
Dengarkan suara di dadamu.
Aku adalah getar yang lembut,
Desiran angin di jendela malammu.
Cinta ini bukan sekadar kata,
Ia adalah ruh yang tak terlihat.
Tak peduli seberapa jauh langkahmu,
Aku selalu ada di dalam napasmu.
8. Jangan Pergi
Jika kau ingin pergi,
Bawa serta hatiku,
Sebab tanpamu, ia hanya seonggok debu,
Menghitung waktu dalam kehampaan.
Namun jika kau memilih tinggal,
Jangan sekadar berteduh di rinduku.
Jadilah langit yang menyelimutiku,
Agar aku tak pernah merasa kehilangan.
9. Cinta Adalah Rumah
Aku bukan hanya mencintaimu,
Aku ingin menjadi rumah bagimu.
Tempat kau pulang ketika dunia lelah,
Tempat kau bernafas tanpa takut.
Jangan bawa cintamu ke jalanan,
Tempat angin mencabik-cabik rindu.
Datanglah, duduklah di hatiku,
Dan biarkan kita melebur menjadi satu.
10. Di Antara Dua Nafas
Dalam nafas pertama, aku merindukanmu.
Dalam nafas kedua, aku menemukanku dalam dirimu.
Dan di antara keduanya,
Ada sunyi yang penuh bisikan namamu.
Jika hidup adalah sekejap kedipan mata,
Biarkan aku menutupnya dalam dekapmu.
Sebab tiada yang lebih indah dari cinta,
Yang menari dalam diam antara dua hati.
Semoga puisi-puisi ini bisa menghadirkan kehangatan dan makna bagi hatimu. 🌿✨