Waktu, Sahabat, dan Harga Sebuah Kepercayaan

Waktu, Sahabat, dan Harga Sebuah Kepercayaan

Masa lalu sering kali menjadi monumen yang kita bangun dalam ingatan, kokoh dalam nostalgia, namun rapuh di hadapan realitas. Dulu, kita adalah dua individu dengan impian yang mengawang tinggi, menghabiskan malam dengan perbincangan penuh optimisme tentang kesuksesan yang akan kita raih bersama. Kau selalu menegaskan bahwa uang hanyalah alat, bukan tujuan. Bahwa keberhasilan sejati terletak pada ketekunan dan ketulusan. Aku, dalam keyakinan yang naif, mempercayai setiap kata itu.

Namun, waktu memiliki kuasnya sendiri dalam melukis takdir. Perlahan, ia mengubah warna dalam kanvas persahabatan kita.


Pertemuan pertama kita terukir dalam benakku dengan detail yang tak pudar. Sekolah menengah yang monoton, ruang kelas sesak dengan kebisingan tak bermakna, dan guru-guru yang suaranya terdengar seperti kaset usang yang terus berulang. Kau duduk di sampingku, mengenakan kaus yang sudah memudar warnanya, dengan sepatu yang solnya mulai terkelupas. Kita berasal dari latar belakang yang serupa, namun dalam dirimu, aku melihat kekuatan yang tak kupahami.

"Suatu hari nanti, kita akan menjadi orang sukses, bukan?" pertanyaanmu terucap dalam keheningan malam di atap rumahku, saat kita menatap langit yang tanpa bintang.

Aku mengangguk yakin. "Kita akan menuliskan kisah kita sendiri."

Aku percaya janji itu akan abadi. Namun, aku lupa bahwa waktu tidak pernah menjanjikan kepastian.


Selepas kelulusan, kita berdua merantau ke kota dengan tekad membangun kehidupan yang lebih baik. Kita menerima pekerjaan apa saja yang bisa menghidupi diri. Aku masih mengingat bagaimana kita berbagi satu bungkus nasi, menjadikan kelaparan sebagai pengorbanan kecil menuju kesuksesan yang kita impikan.

Kemudian, kau mendapat pekerjaan lebih dulu. Gajimu memang tidak seberapa, tapi cukup untuk membuatmu tidak lagi harus menghitung recehan demi sekadar membeli makan siang. Aku bangga padamu, sungguh. Namun, seiring waktu, kehadiranmu mulai berkurang. Kau jarang pulang ke kos yang kita tinggali bersama. Pesanku sering kali hanya dijawab dengan singkat, atau bahkan tak berbalas.

Aku berusaha memahami. Mungkin kau sibuk. Mungkin beban pekerjaan mulai mengubah kebiasaanmu. Aku ingin berpikir bahwa ini hanya fase, bahwa persahabatan kita akan tetap sama. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kenyataan: ada jarak yang semakin melebar di antara kita.


Waktu terus bergulir. Hari-hari yang dulu penuh canda kini terasa sunyi. Aku berusaha membangun hidupku sendiri, meski sesekali masih merindukan hari-hari sederhana saat kita masih bisa berbagi segala hal tanpa batas. Aku melihatmu dari kejauhan, semakin sukses, semakin jauh.

Suatu hari, aku mendengar kabar bahwa kau telah mendapatkan posisi penting di perusahaan besar. Aku bangga, sungguh. Namun, ada pertanyaan yang mengganjal di hatiku: apakah kau masih ingat aku? Apakah aku masih memiliki tempat dalam hidupmu yang kini telah begitu megah dan penuh kesibukan?

Aku memutuskan untuk menghubungimu sekali lagi, berharap setidaknya ada secercah kehangatan yang tersisa. Namun, panggilanku tidak terjawab. Pesanku hanya centang satu. Aku tahu, mungkin kau tidak sengaja mengabaikanku. Atau mungkin, ini memang keputusanmu.


"Kau berubah," ucapku saat akhirnya aku berhasil mengajakmu bertemu.

Kau menatapku, kelelahan terlihat jelas di matamu. Namun, ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang dulu tak pernah ada di sana. "Aku hanya berusaha, sama seperti dulu."

"Tapi dulu kita tidak seperti ini. Kita tidak menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk melupakan satu sama lain."

Kau menghela napas panjang. "Aku tidak melupakanmu. Aku hanya... butuh fokus, butuh waktu untuk membangun masa depanku."

Aku ingin percaya. Aku ingin berpikir bahwa ini hanyalah fase yang akan berlalu. Tapi jauh di dalam diriku, aku tahu: waktu yang kau minta bukanlah jeda sementara, melainkan keputusan untuk melangkah ke arah yang tak lagi sejalan denganku.


Malam itu, aku pulang dengan langkah berat. Aku ingin menyangkal, ingin melawan takdir yang mengubah kita. Tapi hidup tidak pernah berjalan mundur. Kita tidak bisa memaksa masa lalu untuk tetap diam di tempatnya.

Aku menyadari bahwa perubahan adalah kepastian yang tak bisa dihindari. Bahwa dalam perjalanan hidup, orang-orang akan datang dan pergi, dan tak semua janji dapat bertahan melawan waktu.

Namun, yang paling menyakitkan adalah saat menyadari bahwa seseorang yang pernah menjadi bagian dari dirimu kini hanyalah kenangan yang berusaha kau genggam, meski kau tahu genggaman itu sia-sia.

Beberapa bulan berlalu. Aku mulai menerima kenyataan. Aku bertemu orang-orang baru, menjalani hidupku dengan cara yang berbeda. Namun, dalam setiap keberhasilan yang kucapai, ada rasa hampa yang sulit kujelaskan. Kau adalah bagian dari hidupku yang pernah begitu berarti, dan kehilanganmu meninggalkan lubang yang tak mudah diisi oleh siapa pun.

Suatu hari, aku menerima undangan dari seseorang yang dulu menjadi bagian dari lingkaran kecil kita. Ia mengundangku ke sebuah pertemuan reuni kecil. Aku datang dengan harapan kecil bahwa mungkin, kau juga akan ada di sana.

Saat aku melangkah masuk ke ruangan itu, aku melihat banyak wajah familiar. Aku berbincang, tertawa, mengingat masa lalu. Namun, hatiku tetap mencari-cari satu sosok yang tak kunjung datang.

Ketika aku hendak pulang, seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh, dan di sana kau berdiri. Berbeda dari terakhir kali kita bertemu, kali ini sorot matamu tak lagi dipenuhi kelelahan dan kesibukan, melainkan sesuatu yang lebih lembut.

"Aku menyesal," katamu pelan. "Aku terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa beberapa hal lebih berharga dari sekadar uang dan jabatan."

Aku terdiam. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi aku memilih untuk tersenyum. "Aku mengerti."

Malam itu, kita berbicara seperti dulu. Tidak ada penyesalan yang bisa mengembalikan waktu, tapi ada kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru.

Dan aku belajar bahwa meskipun waktu mengubah banyak hal, persahabatan sejati akan selalu menemukan jalannya kembali. Tidak selalu dalam bentuk yang sama, tapi dalam kehangatan yang tetap abadi di hati.

Next Post Previous Post